Welcome to Dbx Room , Jangan lupa kasih saran dan komentarnya , terima kasih

Senin, 24 Maret 2014

Hidup Kedua (nulis waktu masih Kelas 10)



Jadi dulu waktu kelas 10 ada tugas di suruh buat cerpen , tau sendiri kan kalau umur segitu lagi dalam fase masih "Alay" kata si Radit. Dan ini Bukti kalau omongannya si Radit itu nggak salah. Mungkin buat yang masih alay dan lagi di suruh Guru Bahasa Indonesia kalian buat tugas juga aku yakin ini bakal sangat bermanfaat soalnya kalian tinggal copas aja udah gitu dapat nilai.


Hidup Kedua

Pagi itu cuaca terlihat sedikit mendung walaupun tidak hujan . aku bersama 3 temanku Darma,Setia,dan Sapto memutuskan untuk segera berangkat ke tujuan kita yang sudah beberapa hari yang lalu kita rencanakan bersama . Air terjun  Grenjengan , begitulah mereka menyebutnya. Air  terjun bertinggi sekitar 25 meter  tersebut , berada di Gunung Genuk , dan itulah tempat tujuan kami , tempat tersebut memang tidak terlalu jauh dari Desa Banyumanis tempat tinggalku , mungkin untuk ukuran orang yang jarang berjalan jauh tempat tersebut bisa di bilang jauh dari tempat tinggalku , tetapi karena kami sudah terbiasa hidup di desa dari kecil tentu kami sudah sering berjalan jauh melewati batuan-batuan alam dan berbagai macam tumbuhan berduri yang kadang membuat telapak kaki ini merasa tersiksa .
Perjalanan kami di mulai dari rumah Setia tanpa membawa apapun di kantong kami kecuali sebuah parang milik Setia yang akan kami gunakan untuk membersihkan semak-semak yang menghalangi jalan kami . Kami memang sama-sama memiliki satu hobi yang sama yaitu tertawa riang dalam canda khas kami berempat , karena itu tentu saja perjalanan kami selalu di penuhi canda dan tawa.
“Hei lihat , apa itu lintah ?”Tanya Setia.
                  “Benar , itu memang lintah !” Jawab Ku.
“Mungkin kita bisa menjadikannya menu sarapan untuk pagi ini karena aku sedikit lapar , hah !”
  Sapto bergurau.
                 “Ya , itu ide bagus , mungkin jika di semur akan lebih enak !”Kata Bagus.
“Apa ada yang lebih waras di sini ?  masak lintah di semur , salah kamu ! lintah itu di goreng !”
  Kata Ku bercanda.
“Memang udah ga’ ada yang waras , masak lintah mau di goreng , yang serius kenapa ! bakar
  Aja udah !”Kata Setia.
“Kesimpulannya kita berempat memang ga’ ada yang waras !”Kata Bagus.
”O iya aku lupa , hehe !”Kata Ku.


Di tengah canda kami , kami mendengar suara gemuruh air yang tampaknya jumlahnya begitu banyak . Saat kami keluar dari semak yang begitu tebal , kami seketika terhenti sejenak karena terkagum-kagum dengan pesona sumber suara yang kami dengar tadi . Akhirnya kami sampai di tempat tujuan kami , air terjun Grenjengan itu memang mempesona seperti apa yang di katakan banyak orang . Tempat ini memang tidak banyak orang mengetahuinya karena itulah tempat ini masih sangat alami tanpa ada sampah plastik yang tercecer .

Setelah kami puas menikmati keindahannya kami pun memutuskan untuk kembali . Di tengah perjalanan , kami melihat jalan bekas longsoran yang Nampak seperti jalan pintas bagi kami .

“Itu seperti jalan pintas !”Kata Sapto.
“Kita coba aja lewat situ , sepertinya itu ujungnya !”Kata Ku.
“Aku ragu , apa itu memang ujungnya ?”Setia agak ragu.
“Kalau pengen tau kenapa kita ga’ langsung naik.”Kata Bagus.
“Benar , kita akan segera tau saat kita di atas.”Kata Ku.

Lalu , Kita segera saja untuk melanjutkan perjalanan pulang dengan melewati jalan yang kita anggap sebagai jalan pintas itu dengan sedikit rasa ragu . Tempat itu terlihat seperti rumah mewah berkelas bagi seribu cobra dan tempat penginapan berbintang lima bagi lintah yang kehausan yang menunggu jus merah segar untuk menghilangkan rasa tak enak dalam tenggorokan mereka . Di awal perjalanan , kami seperti melintasi jalan tol , tetapi saat jalan tol yang kami lewati sudah sampai pada ujungnya  , kami menemui jalan yang keadaanya jauh berbeda dengan banyak sekali lubang dalam yang tak dapat di lewati . Ketika aku melihat bebatuan yang terlihat mendatar dari arah pandanganku , seketika aku langsung mengira bahwa itu adalah akhir dari perjalanan kami . Aku begitu bergembira saat tanganku dapat meraihnya tetapi kegembiraan ku berubah saat aku benar-benar mengetahui bahwa perkiraanku 100% salah . Kali ini aku kembali terdiam , bukan karena rasa gembira ataupun terpesona oleh keindahan air terjun yang aku lihat sebelumnya , kali ini aku terdiam oleh rasa takut oleh misteri kematian karena kami benar-benar dalam masalah yang sangat besar kali ini , kami menghentikan langkah kami dan sama-sama terdiam dan memikirkan apa yang harus kita lakukan kali ini , karena tidak mungkin bagi kita untuk kembali ke garis start , seperti anak kecil yang memanjat pohon tinggi dan tidak bisa kembali turun .

“Apa yang harus kita lakukan sekarang ?” aku memandang sekitar.
“Kita udah gak mungkin turun kan , itu mustahil !”Sapto dengan raut wajah ketakutan.
“Gak ada jalan lain selain melanjutkan perjalanan kita , jika kita sampai di atas kita akan
  Langsung bisa pulang , hanya itu satu-satunya jalan kita !”Bagus dengan sedikit rasa optimis.
“Bagus benar !”Setia menganggukkan kepalanya.
“Ok , Aku akan buat jalan ke atas terlebih dahulu , tapi nanti gantian !”Sambil melemparkan
  Batu yang aku pegang.


                Akhirnya kita semua memutuskan untuk melanjutkan perjalanan , dengan raut wajah ragu tetapi di hati berusaha untuk optimis karena kita semua tahu bahwa tidak ada jalan lain lagi . Aku berada di urutan paling depan untuk membuat jalan pendakian .
Di awal terlihat mudah tetapi semakin ke atas aku semakin kehabisan akal , dan akhirnya aku mati langkah padahal baru sebentar aku memimpin perjalanan . Terhentilah kembali langkah kami , dengan melihat sekeliling kami berusaha untuk memikirkan langkah apa yang harus kami ambil .
Tidak lama kemudian Darma tiba-tiba mengambil parang yang aku pegang dari tanganku , dengan langkah pasti dia mengambil jalan yang ada di sebelah kiri ku .
Cukup lama Darma menjadi komando kami , tetapi sepertinya kami memang benar-benar tidak beruntung hari itu , hujan lebat tiba-tiba mengguyur kami dengan begitu jalan yang kami lalui menjadi licin dan sangat berbahaya di tambah lagi dengan sudut sekitar 75 derajat .
Karena kelelahan Darma kali ini di gantikan oleh Sapto sebagai pimpinan , dengan jalan yang licin kami kembali melanjutkan perjalanan.

Sapto cukup lancar menjadi pimpinan kali ini , bahkan dia terlihat lebih lancar dari Bagus . Di bawah pimpinan Sapto kami berjalan cukup lancar tanpa halangan yang benar – benar berarti , dan akhirnya setelah cukup lama kami bisa melihat puncak jurang yang kami daki ini , walupun terlihat masih jauh dari tempat kami berdiri . di saat kami hampir sampai puncaknya , sesuatu yang buruk terjadi , Batu yang ku jadikan tumpuan tiba-tiba longsor , nasib baik ku kali ini karena tangan ku masih berpegangan pada akar pohon besar yang aku tidak tahu pasti apa nama pohon penyelamat ku itu.
Akhirnya apa yang kami tunggu dari tadi muncul juga , ujung jurang yang terlihat begitu jauh sekarang sudah dapat aku jangkau dengan tangan kanan ku , kami akhirnya bisa meluapkan kegembiraan kami di atas jurang yang mungkin saja bisa merenggut nyawa kami .
Apa yang kami alami hari itu adalah pengalaman yang tak akan pernah terlupakan seumur hidup kami berempat , selalu berpikir positif adalah bekal kami berempat untuk melawan rasa takut , dalam keadaan apapun jika kita berfikir positif pasti kita juga akan mendapatkan hal positif juga .


  
 


KARYA  :DENIS Y BACHTIAR
KELAS    :X.6
   

0 komentar:

Posting Komentar

Welcome to Dbx Room , Jangan lupa kasih saran dan komentarnya , terima kasih