Jadi dulu waktu kelas 10 ada tugas di suruh buat cerpen , tau sendiri kan kalau umur segitu lagi dalam fase masih "Alay" kata si Radit. Dan ini Bukti kalau omongannya si Radit itu nggak salah. Mungkin buat yang masih alay dan lagi di suruh Guru Bahasa Indonesia kalian buat tugas juga aku yakin ini bakal sangat bermanfaat soalnya kalian tinggal copas aja udah gitu dapat nilai.
Hidup Kedua
Pagi itu cuaca
terlihat sedikit mendung walaupun tidak hujan . aku bersama 3 temanku
Darma,Setia,dan Sapto memutuskan untuk segera berangkat ke tujuan kita yang sudah
beberapa hari yang lalu kita rencanakan bersama . Air terjun Grenjengan , begitulah mereka menyebutnya.
Air terjun bertinggi sekitar 25
meter tersebut , berada di Gunung Genuk
, dan itulah tempat tujuan kami , tempat tersebut memang tidak terlalu jauh
dari Desa Banyumanis tempat tinggalku , mungkin untuk ukuran orang yang jarang
berjalan jauh tempat tersebut bisa di bilang jauh dari tempat tinggalku ,
tetapi karena kami sudah terbiasa hidup di desa dari kecil tentu kami sudah
sering berjalan jauh melewati batuan-batuan alam dan berbagai macam tumbuhan
berduri yang kadang membuat telapak kaki ini merasa tersiksa .
Perjalanan kami
di mulai dari rumah Setia tanpa membawa apapun di kantong kami kecuali sebuah
parang milik Setia yang akan kami gunakan untuk membersihkan semak-semak yang
menghalangi jalan kami . Kami memang sama-sama memiliki satu hobi yang sama
yaitu tertawa riang dalam canda khas kami berempat , karena itu tentu saja
perjalanan kami selalu di penuhi canda dan tawa.
“Hei lihat , apa itu lintah ?”Tanya Setia.
“Benar , itu memang lintah !” Jawab Ku.
“Mungkin kita bisa menjadikannya
menu sarapan untuk pagi ini karena aku sedikit lapar , hah !”
Sapto bergurau.
“Ya , itu ide bagus , mungkin jika di semur akan lebih enak !”Kata Bagus.
“Apa ada yang lebih waras di sini
? masak lintah di semur , salah kamu !
lintah itu di goreng !”
Kata Ku bercanda.
“Memang udah ga’ ada yang waras ,
masak lintah mau di goreng , yang serius kenapa ! bakar
Aja udah !”Kata Setia.
“Kesimpulannya kita berempat memang
ga’ ada yang waras !”Kata Bagus.
”O iya aku lupa , hehe !”Kata Ku.
Di tengah canda kami , kami
mendengar suara gemuruh air yang tampaknya jumlahnya begitu banyak . Saat kami
keluar dari semak yang begitu tebal , kami seketika terhenti sejenak karena
terkagum-kagum dengan pesona sumber suara yang kami dengar tadi . Akhirnya kami
sampai di tempat tujuan kami , air terjun Grenjengan itu memang mempesona
seperti apa yang di katakan banyak orang . Tempat ini memang tidak banyak orang
mengetahuinya karena itulah tempat ini masih sangat alami tanpa ada sampah
plastik yang tercecer .
Setelah kami puas menikmati
keindahannya kami pun memutuskan untuk kembali . Di tengah perjalanan , kami melihat
jalan bekas longsoran yang Nampak seperti jalan pintas bagi kami .
“Itu seperti jalan pintas !”Kata Sapto.
“Kita coba aja lewat situ ,
sepertinya itu ujungnya !”Kata Ku.
“Aku ragu , apa itu memang ujungnya
?”Setia agak ragu.
“Kalau pengen tau kenapa kita ga’
langsung naik.”Kata Bagus.
“Benar , kita akan segera tau saat
kita di atas.”Kata Ku.
Lalu , Kita segera saja untuk
melanjutkan perjalanan pulang dengan melewati jalan yang kita anggap sebagai
jalan pintas itu dengan sedikit rasa ragu . Tempat itu terlihat seperti rumah
mewah berkelas bagi seribu cobra dan tempat penginapan berbintang lima bagi
lintah yang kehausan yang menunggu jus merah segar untuk menghilangkan rasa tak
enak dalam tenggorokan mereka . Di awal perjalanan , kami seperti melintasi
jalan tol , tetapi saat jalan tol yang kami lewati sudah sampai pada ujungnya , kami menemui jalan yang keadaanya jauh
berbeda dengan banyak sekali lubang dalam yang tak dapat di lewati . Ketika aku
melihat bebatuan yang terlihat mendatar dari arah pandanganku , seketika aku
langsung mengira bahwa itu adalah akhir dari perjalanan kami . Aku begitu
bergembira saat tanganku dapat meraihnya tetapi kegembiraan ku berubah saat aku
benar-benar mengetahui bahwa perkiraanku 100% salah . Kali ini aku kembali
terdiam , bukan karena rasa gembira ataupun terpesona oleh keindahan air terjun
yang aku lihat sebelumnya , kali ini aku terdiam oleh rasa takut oleh misteri
kematian karena kami benar-benar dalam masalah yang sangat besar kali ini ,
kami menghentikan langkah kami dan sama-sama terdiam dan memikirkan apa yang
harus kita lakukan kali ini , karena tidak mungkin bagi kita untuk kembali ke
garis start , seperti anak kecil yang memanjat pohon tinggi dan tidak bisa
kembali turun .
“Apa yang harus kita lakukan
sekarang ?” aku memandang sekitar.
“Kita udah gak mungkin turun kan ,
itu mustahil !”Sapto dengan raut wajah ketakutan.
“Gak ada jalan lain selain
melanjutkan perjalanan kita , jika kita sampai di atas kita akan
Langsung bisa pulang , hanya itu satu-satunya jalan kita !”Bagus dengan
sedikit rasa optimis.
“Bagus benar !”Setia menganggukkan
kepalanya.
“Ok , Aku akan buat jalan ke atas
terlebih dahulu , tapi nanti gantian !”Sambil melemparkan
Batu yang aku pegang.
Akhirnya kita semua memutuskan
untuk melanjutkan perjalanan , dengan raut wajah ragu tetapi di hati berusaha
untuk optimis karena kita semua tahu bahwa tidak ada jalan lain lagi . Aku
berada di urutan paling depan untuk membuat jalan pendakian .
Di awal terlihat mudah tetapi
semakin ke atas aku semakin kehabisan akal , dan akhirnya aku mati langkah
padahal baru sebentar aku memimpin perjalanan . Terhentilah kembali langkah
kami , dengan melihat sekeliling kami berusaha untuk memikirkan langkah apa
yang harus kami ambil .
Tidak lama kemudian Darma tiba-tiba
mengambil parang yang aku pegang dari tanganku , dengan langkah pasti dia
mengambil jalan yang ada di sebelah kiri ku .
Cukup lama Darma menjadi komando
kami , tetapi sepertinya kami memang benar-benar tidak beruntung hari itu ,
hujan lebat tiba-tiba mengguyur kami dengan begitu jalan yang kami lalui
menjadi licin dan sangat berbahaya di tambah lagi dengan sudut sekitar 75
derajat .
Karena kelelahan Darma kali ini di
gantikan oleh Sapto sebagai pimpinan , dengan jalan yang licin kami kembali
melanjutkan perjalanan.
Sapto cukup lancar menjadi pimpinan
kali ini , bahkan dia terlihat lebih lancar dari Bagus . Di bawah pimpinan
Sapto kami berjalan cukup lancar tanpa halangan yang benar – benar berarti ,
dan akhirnya setelah cukup lama kami bisa melihat puncak jurang yang kami daki
ini , walupun terlihat masih jauh dari tempat kami berdiri . di saat kami
hampir sampai puncaknya , sesuatu yang buruk terjadi , Batu yang ku jadikan
tumpuan tiba-tiba longsor , nasib baik ku kali ini karena tangan ku masih
berpegangan pada akar pohon besar yang aku tidak tahu pasti apa nama pohon
penyelamat ku itu.
Akhirnya apa yang kami tunggu dari
tadi muncul juga , ujung jurang yang terlihat begitu jauh sekarang sudah dapat
aku jangkau dengan tangan kanan ku , kami akhirnya bisa meluapkan kegembiraan
kami di atas jurang yang mungkin saja bisa merenggut nyawa kami .
Apa yang kami alami hari itu adalah
pengalaman yang tak akan pernah terlupakan seumur hidup kami berempat , selalu
berpikir positif adalah bekal kami berempat untuk melawan rasa takut , dalam
keadaan apapun jika kita berfikir positif pasti kita juga akan mendapatkan hal
positif juga .
|
KARYA :DENIS
Y BACHTIAR
KELAS :X.6
|
0 komentar:
Posting Komentar