Terserah, Dalam Benakku Inilah Musik
Musik, bukan hanya
sekedar penghibur. Aku selalu merasa kalau ada hal lain di situ yang sulit sekali
untuk di jelaskan. Kebanyakan orang selalu mendefinisikan dengan kalimat
seperti, musik adalah hal yang... atau, musik adalah suatu... dan sebagainya. Menurutku
kalimat semacam itu selalu membosankan dan terkadang tidak efisien. Bayangkan
ketika seseorang membaca penjelasan seperti itu mereka tetap harus berpikir
tentang maksud dari kalimat tersebut. Kenapa kalimat atau kata yang di sebut
pen”jelas”an tetap memaksa kita untuk berfikir keras, padahal penjelasan berawal
dari kata “jelas”. Nah, dari alasan itu dan juga karena untuk mebuat suatu
penjelasan itu susah. Kosakata di otakku juga masih kurang. Kalau begitu akan
aku ceritakan, musik dari sudut pandangku dan juga pengalamanku sama musik.
Aku bukan anak yang
lahir dari keluarga musisi layaknya Kevin Aprilio. Namun semua anggota
keluargaku tau caranya bermusik meskipun itu tidak lebih dari sekedar bermain
gitar dan bernyanyi. Paling tidak aku lahir bukan di tengah keluarga yang buta
nada. Menurutku, Bapak adalah penyayi yang lumayan, dia sering nyanyi lagu
tembang kenangan kalau pas pegang gitar. Ibuk juga, aku pernah dengar dia
nyanyi dan suaranya juga lumayan, apalagi dia sering kasih komentar kalau lagi
nonton acara pencarian bakat menyanyi di TV. Walaupun komentarnya nggak jelas,
tapi paling nggak itu menunjukkan kalau ibuk punya passion di musik. Kakakku
yang dulu sering banget main gitar waktu aku masih SD dan itu juga yang bikin
aku minta di beliin gitar sama ibuk karena sering denger kakakku jrang jreng
jrang jreng di kamar dan seingatku harga gitarnya 100 ribu. Gitar sederhana
namun benar-benar bernilai dan bersejarah. Tapi gitarnya sudah hancur sekarang
dan hilang entah kemana di telan bumi. Katanya bersejarah tapi kok di biarin
hilang?hehe. Benda bersejarah tidak harus di simpan di museum kan? Kadang
mereka hanya memajang replikanya di sana. Mungkin aku juga akan melakukan itu
suatu hari nanti.
Semenjak aku mempunyai
gitar pertamaku belum pernah ada yang mengajarkanku secara langsung kecuali Mas-mas
penjaga salah satu studio musik di jepara, yang biasa aku panggil Mas Pur. Dia
mengajariku bermain bass dengan benar, yaaa memang bukan gitar. Tapi mas pur
lah yang mengajariku teori dan yang paling penting dialah yang membuat
jari-jariku lebih lincah bermanuver di atas senar (senam jari). kalau aku nggak
pernah ketemu mas Pur sudah di pastikan jari-jariku akan tetap kaku seperti
dulu. Dan guru keduaku, yang juga kalian semua mengenalnya, namanya Youtube.
Aku sudah mengenal
gitar sejak SD dan aku juga sudah mulai bisa memainkannya sejak saat itu. Namun
di SMP aku mulai mengenal alat musik lain, semenjak ada temanku yang mengajakku
membuat sebuah band di sekolah. Nama bandku waktu itu, Justify. Menurutku nama itu cukup keren dan terdengar bagus saat di
ucapkan. Bahkan sampai sekarang aku masih berfikir seperti itu. Di Justify aku
adalah seorang bassist. Kenapa memilih bass? Entahlah. Saat itu aku hanya
berfikir kalau bass adalah alat musik yang suaranya empuk. Hahh empukkk? Alasan
yang memang terdengar aneh, tapi percayalah aku serius. Setelah itu aku merasa
ada ikatan yang kuat antara aku dengan bass. Bahkan di SMA setelah aku punya
band baru (Continue) aku masih
memilih untuk jadi bassist.
Pada dasarnya semua
alat musik itu satu. Untuk beberapa orang yang hanya sibuk dengan satu alat
musik mungkin nggak ngerti sama ucapanku itu. Tapi mereka yang bisa memainkan
beberapa alat musik akan bilang “heem bener banget”. Saat kamu tau cara
memainkan satu alat musik dengan dengan pemahaman yang benar di situ kamu akan
merasakan sesuatu di dadamu, mereka selalu bilang “Hati”. Padahal hati itu kan
organ penghasil empedu ya? Tapi kenapa mereka selalu bilang “Hati” untuk mewakili
rasa, dan jujur menurutku kata “hati” tidak terlalu cocok untuk di pakai.
Mungkin kita perlu menyepakati kata baru untuk di tulis di kamus Bahasa
Indnonesia. Nah, dari hati menuju ke otak dan muncullah teori. Aku berpendapat
kalau teori musik lahir dengan proses semacam itu. Aku berani klaim, beberapa
dari kalian pasti akan sependapat dengan hal tersebut.
Memang belum pasti,
sebenarnya feeling bermusik itu muncul dari bakat atau memang bisa di latih.
Karena faktanya ada beberapa orang yang benar-benar buta nada dan mereka
bernyanyi dengan membabi buta tanpa rasa, tetapi ada beberapa manusia jenius
seperti Pianist cilik dari amerika yang
bisa menirukan apapun yang dimainkan ayahnya dengan sekali mendengar. Padahal
anak yang aku lupa namanya itu (catatan: aku pernah menontonnya di TV) tidak
pernah belajar bermain piano sebelumnya, tetapi dia memang punya kepekaan
terhadap suara yang luar biasa. Ada kalanya aku selalu iri dengan orang-orang
jenius. Karena jenius itu bukan sesuatu yang bisa di latih. Memangnya ada
pelatihan atau semacam les yang mengajarkan seseorang untuk menjadi jenius. Itu
sama saja ketika kamu mendengar kabar kalau ada seekor gajah yang terbang.
Konyol sekali kalau memang ada.
Tapi musik itu
menurutku indahnya woww bajirut uasemm temenan. Nah itulah saking indahnya yang
keluar malah kata-kata semacam itu. Tapi aku nggak bermaksud lebay lho ya. Coba
aja kalian pikir, seni sama matematika di jadiin satu di musik. Coba lihat ini.
|
c=1 d=2 e=3 f=4 g=5 a=6 b=7 .....
Major : 1 - 3 - 5
Minor (m) : 1 - 3b - 5
Major7 (Maj7) : 1 - 3 - 5 - 7
Minor7 (m7) : 1 - 3b - 5 - 7b
Dominant7 (7) : 1- 3 - 5 - 7b
7b5 (7-5) : 1 - 3 - 5b - 7b
7#5 (7+5) : 1 - 3 - 5# - 7b
m7b5 (m7-5) : 1 - 3b - 5b - 7b
7b9 (7-9) : 1 - 3 - 5 - 7b - 9b
6 : 1 - 3 - 5 - 6
Minor6 (m6) : 1 - 3b - 5 - 6
69 : 1 - 3 - 5 - 6 - 9
9 : 1 - 3 - 5 - 7b - 9
Minor9 (m9) : 1 - 3b - 5 - 7b - 9
Major9 (Maj9) : 1 - 3 - 5 - 7 - 9
Add9 : 1 - 3 - 5 - 9
11 : 1 - 3 - 5 - 7b - 9 - 11
Minor11 (m11) : 1 - 3b - 5 - 7b - 9 - 11
13 : 1 - 7b - 9 - 11 - 13
sus2 : 1 - 2 - 5
sus4 : 1 - 4 - 5
diminished (dim) : 1 - 3b - 5b
diminished7 (dim7) : 1 - 3b - 5b - 6
Augmenthed (aug) : 1 - 3 - 5#
|
Itu semua melebur jadi
satu dengan apa yang aku sebut feeling bermusik. Percayalah, musik itu nggak
se-simple yang kalian lihat. kalian akan benar-benar mencintai musik setelah
memahami dunia musik. Dan jangan heran kalau ada banyak pecinta musik termasuk
aku yang rela membeli alat musik dengan harga yang jor joran, nonton konser
dengan tiket yang nggak murah, punya style sesuai aliran musik yang di sukainya
dan sebagainya. Itu semua karena darah kita sudah terlanjur di racuni sama
musik dan nggak akan pernah bisa sembuh.



